Membina Budaya Wong Cilik

Kadang-kadang naluri priyayi feodal saya, harus saya akui, memang masih mengalir dengan derasnya di otot-otot saya. Terutama naluri sadis saya terhadap para kerabat wong cilik. Tentu bukan lagi sadisme seperti pada zaman Amangkurat, tetapi sadisme kecil-kecilan yang cukup membuat Mr. Rigen dan family frustrasi tidak karuan.

Ah, tentu saja juga bukan macam sadisme kawan-kawan ndoromas zaman kecil saya yang suka memberi tahu goreng, yang diam-diam mereka penuhi dengan lombok rawit, kepada abdi mereka. Waktu para abdi itu pada blingsatan kepedasan, kawan-kawan ndoromas itu malah pada tertawa cekakakan dengan nikmatnya. Air mata mereka, para ndoromas itu, tidak kalah deras mengalir dari mata mereka dibanding yang keluar dari mata para abdi mereka. Cuma yang satu air mata kegembiraan, yang satu air mata kepedihan. Wehh, air mata saja kok ternyata bisa kontekstual, lho …..

Tidak. Sadisme saya terhadap para anggota kitchen cabinet saya tentu lebih canggih dan modern daripada para ndoromas yang dekaden itu. Misalnya pada Sabtu sore ini. Daripada melihat ketoprak di teve, saya kumpulkan mereka di ruang tengah untuk saya ajak main cerdas tangkas. Tentu saja targetnya mulia bin ideal. Supaya mereka menjadi batur-batur yang kelak punya wawasan intelektual yang luas. Misalnya, saya akan bertanya,

“Siapakah Sir Isaac Newton itu ?”

Sinten, Pak ?” tanya Mr. Rigen dengan pandangan bengong.

“Ser Aisaak Nyuten, bento !

“Wah, kita mboten kenal sama Sri Aisah saking Nyutran itu, Pak.”

Wee, gebleg tenan kowe. Saya cegklong gajimu Rp. 100,- satu minggu !”

Muka keluarga itu mulai pucat. Mungkin batin mereka mulai ngunandika, “Majikan saya mulai kumat ini …”

Adapun saya tertawa terkekeh-kekeh.

Saestu, lho Pak. Saya sama Bune ini tidak punya sedulur dengan nama begitu di Nyutran. Atau jangan-jangan Bune ?

Ora ki Pakne.

Dan Ms. Nansiyem pun menjawab sauaminya dengan pandangan yang benar-benar desperate. Habis, Rp. 100,- seminggu. Kalau majikannya kumat dengan cerdas tangkas sadis begini tiap Sabtu sore, sambil mengorbankan ketoprak, harus bayar berapa lagi nanti. Ha … ha … ha … haaa. Saya pun tertawa bagaikan Dursasana, satria dari Banjurjungut itu.

“Ayo, satu pertanyaan lagi, Gen, Yem, Ben. Kalau kali ini tidak bisa lagi, cengklong Rp. 100,- satu minggu lagi.”

Mereka kelihatan tegang. Mata mereka sedikit mendelik. Saya pun mencari-cari pertanyaan yang muskil tetapi canggih. Mau saya tanyakan urutan Pancasila dan arti-artinya pasti mereka sudah mengetahui. Meskipun mereka belum lulus penataran P4 paket satu jam pun, pastilah mereka sudah akan dapat dengan tangkas menjawabnya. Wong Pancasila kan asli berakar di bumi kita, termasuk bumi Pracimantoro. Jadi, pasti mereka sudah mengenalnya. Saya tidak ikhlas kalau mereka dapat dengan enak menjawab pertanyaan saya. Dan juga itu tidak mendidik !

“Nah, sekarang Gen, Yem, Ben. Perhatikan. Dengar baik-baik. Jangan ngowoh. Apakah kalian setuju dengan konsep konflik kelas dari Karl Marx ?”

Mr. Rigen memang lantas ngowoh betul. Kemudian rambutnya dicabuti.

Woalahhh, Paak. Gek siapa lagi orang ituuu. Nyerah, Pak. Nyerah aja Bune. Nggak usah dijawab.”

Heitt, … kalau nyerah cengklongan-nya Rp. 200,- seminggu. Saya lebih menghargai orang yang ngawur daripada yang menyerah. Kalau ngawur itu masih ada harapan jadi orang. Kalau belum-belum sudah menyerah mau jadi apa kowe ? Cengklong Rp. 200,-“

“Mati kita Bune, Ben. Gek berapa jumlah denda itu nanti. Habis gaji kita, Pak. Padahal bulan depan kita mau nyadran ke desa.”

Husss, … jangan cengeng. Bagaimana kamu bias jadi batur yang modern dan canggih, kalau belum-belum sudah cengeng begitu ?”

Mereka duduk diam. Kekes, kecut hati mereka. Mungkin mereka ngunandika dalam hati, “Gek tadi malam pak Ageng mimpi apaa kok jadi kumat begini ?”

“Nah, sekarang pertanyaan satu lagi. Dengar baik-baik. Siapakah Presiden Reagan itu ?”

Tiba-tiba dengan sigap Ms. Nansiyem mengacungkan tangannya.

Lha, nek niku ya Bapake thole, to Pak !”

Dapurmu. Aku tanya Presiden Reagan, bukan Rigen. Sontoloyo. Cengklong lagi !”

Ketiga makhluk batur itu sekarang hanya bias menundukkan kepala mereka.

“Sekarang benar-benar pertanyaan terakhir. Kalau sampai salah satu dari kalian tidak bisa menjawab, ojo takon dosa kalian !”

Mereka makin sigap lagi mendengarkan. Penuh konsentrasi dahsyat. Mata mereka kelap-kelip seperti lampu gereja.

“Siapakah Dr. Huxtable itu *)? Hayo, cepat jawab !”

Mr. Rigen nglokro. Ms. Nansiyem tidak mampu lagi melolo matanya. Tiba-tiba si setan, bedhes cilik,  Beni Prakosa mengacungkan tangannya.

“Saya tahu, Pak Ageng. Saya tahu … “

Saya kaget.

Bener, kamu tahu, Le ?

“Iya, itu wong ileng di tipi. Ha … ha … ha … “

Aha, jenius cilik. Akhirnya ada harapan juga generasi muda kita. Cerdas tangkas saya bubarkan. Cengklongan, tentu saja tidak jadi diterapkan. Begitu besar hati saya melihat kecerdasan Beni Prakosa. Sejak itu, setiap hari, saya sediakan setidaknya satu jam untuk mengedril dia dengan macam-macam. Menghafal sajak-sajak. Baris berbaris. Upacara bendera. Sajak yang paling dia senangi,

Halo, matahali

Aku disini

Namaku Beni

Sajak yang paling saya senangi jika dia deklamasi,

Halo, Pak Ageng

Engkau matahali

Matahali, matahali, ma – ta – ha – liii …..

Yogyakarta, 17 Nopember 1987

*) tokoh dlm acara TV yg populer di th ’80 an

**) gambar dr weeatfilm.com

Iklan

2 komentar

  1. wah keren nih pokonya sebagai uapaya slah satu tindakan untuk melestarikan sastra Indonesia dan tetntunya salah satu Pelestarian karya-karya Umar kayam ini, keren nih om. 🙂 lanjutkna om, klau saya boleh minta semua karya umar kayam kalau om punya, di tulis ulang kembali di blog ini om. saya dukung om ;D

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      ma kasih …. insya allah setiap sabtu ada postingan baru

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: