Madam

Mister Rigen bukannya selalu menjadi direktur kitchen cabinet dalam pemerintahan saya. Dulu, kira-kira hingga empat tahun yang lalu, dia berada di bawah kekuasaan tokoh lain. Tokoh ini adalah Madam. Ya, Madam saja, tanpa embel-embel nama lain dibelakangnya, meskipun tentu dia punya nama yang lebih lengkap lagi daripada itu.

Asalnya dari Tepus, Wonosari, Gunungkidul. Umurnya sudah mendekati enam puluh tahun dan sudah sejak umur tujuh belas tahun mengembara, mengembangkan karier sebagai pembantu rumah tangga di berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rumah tangga yang dimasukinya sebagai pembantu bukan hanya terbatas pada keluarga Jawa saja, melainkan juga keluarga-keluarga asing. Tidak mengherankan, bila pada waktu dia menginjak umur empat puluh tahun, dia sudah mumpuni dalam segala bidang pelayanan. Mencuci bersih, menyetrika halus, menata rumah modern eropis. Masak memasak? Apalagi! Mulai dari spaghetti bolognaise, steak hingga ke brongkos dan pepes ikan dikuasainya bagai seorang chef, koki sejati.

Tidak mengherankan apabila wibawanya di dunia P(ersatuan) B(abu) B(abu) dan P(ersatuan) D(jongos) D(jongos) sangatlah dasyatnya. Para babu dan jongos yang baru mulai menapakkan kakinya di rumah tangga priyayi pada gemetar dan kekes mendengar reputasinya. Pada pergunjingan dan seminar-seminar PBB dan PDD namanya semangkin muncul sebagai tokoh legendaris, berwibawa dan menakutkan. Kolega-koleganya banyak yang tidak tahan dan kuat mengalami pembinaannya. Dia adalah contoh perfeksionis dan cerewetis sejati. Bagi para babu dan jongos yang baru belajar itu, rasanya ada saja yang belum beres bagi sang pembina. Yang debu masih melekat di pojok kaki kursi, sprei yang masih terlipat-lipat di tempat tidur, ukuran gula yang masih kurang tepat, bumbu masakan yang msih cemplang dan entah apa lagi.

Dengan reputasi begitulah dia memasuki kehidupan saya. Waktu itu saya memang membutuhkan seorang yang allround, yang sendirian, mandiri dan dapat melayani saya. Pada pikiran saya, dengan orang seperti itu saya akan dapat lebih tenteram, tidak perlu lagi mengajari seni manajemen serta seni masak-memasak makanan saya. Lagi pula, saya sudah benar-benar bosan dengan makanan rantangan. Akan tetapi, saya lupa bahwa pada waktu dia dating itu umurnya sudah sekitar lima puluh tahun dan sudah mencapai puncak prestasi serta prestisenya.

Pada waktu dia memasuki kawasan rumah saya yang tampil bukan lagi seorang pembantu rumah tangga, bahkan juga bukan seorang sesepuh koki, tetapi seorang pro dengan sosok seorang ndoro putri sejati. Bayangkan! Dia datang hari itu dengan kain rujak sente, kabaya chiffon dengan warna pastel kebiruan, slendang, selop, payung yang bisa dilipat-lipat. Tangannya hanya menjinjing tas kecil. Kopernya baru datang sore harinya diantar becak. Jadi, yang berdiri di hadapan saya waktu itu benar-benar seorang lady dengan segala elegance dan flair-nya.

Begitu kami mulai bicara tentang tugas, dia menuntut dua orang asisten. Satu untuk bersih-bersih rumah, satu untuk mencuci dan menyetrika, sedang untuk masak-memasak beliau berkenan untuk melaksanakannya sendiri. Saya tidak tahu apa yang menguasai benak saya waktu itu. Permintaan itu saya penuhi belaka. Mungkin gaya bahasanya yang tes-tes-tes menyakinkan itu. Mungkin karena saya merasa berhadapan dengan calon seorang dame van de huishouding alias pengelola rumah tangga. Dua orang asisten itu adalah seorang perempuan, bekas babu cuci di Sekip, dan seorang lagi adalah Mr. Rigen yang pada waktu itu masih lajang dan masih agak segar baru turun dari pertapaan di Pracimantoro.

Hanya dalam waktu seminggu sang asisten wanita itu tahan dibina. Segera dia minta berhenti. Dan sesudah itu beberapa asisten wanita dicoba, akan tetapi segera pula berjatuhan. Dan sejak itu pula jabatan asisten wanita ditiadakan. Akan halnya Mr. Rigen, sang Pembina itu menyukainya karena Mr. Rigen orangnya penurut dan memang ingin mengembangkan karier sebagai seorang teknokrat yang terampil dan berguna. Segera terasa dalam rumah kami bahwa kekuasaan dan dinamika rumah tangga berada di tangannya. Tidak pelak lagi dialah Madam dalam rumah. Saya dan Mr. Rigen hanyalah anak wayang beliau saja. Untunglah Madam sembodo orangnya. Rumah saya terkelola dengan baik, makanan selalu enak dan Mr. Rigen berkembang sebagai teknokrat yang baik. Memang agak otoriter caranya mengendalikan kami. Tetapi, bukankah untuk sesuatu ada sesuatu? Untuk keotoriterannya itu saya mendapat imbalan hidup yang enak. Bahkan anak istri yang kadang-kadang datang dari Jakarta pun tidak luput dari wibawa otoritas Madam. Tanpa satu kompleks rendah diri Madam akan mengatur semua jaringan keluarga saya yang datang di Yogya. Dan anehnya (meski dengan menggerutu di sana-sini) mereka menerima juga kepimpinan Madam.

Sampai pada suatu hari Madam jatuh sakit agak keras dan beliau mulai menyimpulkan bahwa waktunya untuk beristirahat sebagai purnawirawati datang. Umurnya saya taksir memang telah mendekati enam puluh tahun.

“Pak, saya mau pulang ke Tepus.”

Begitu saja terlontar kelimatnya. Alangkah aneh kalimat itu sesudah sekian tahun kami serumah menikmati bius kepimpinannya. Sungguh satu antiklimaks! Kadang-kadang kalau saya harus membayangkan saat perpisahan itu akan lebih melodramatik lagi. Dengan plot yang lebih berbelit begitu. Ini tidak. Begitu saja Madam mau kondur mudik ke tanah asalnya.

“Terus kamu mau ngapa di Tepus ?”

“Ya, istirahat saja, Pak. Bantu-bantu saudara-saudara saya bertani. Menikmati masa tua di desa.”

Edan. Saya terkesima. Benar-benarlah Madam seorang Madam. Sesudah sekian tahun mengembara kemudian berkembang menjadi seorang Madam yang mumpuni mengelola satu rumah tangga dengan life style yang agak gila, dia membayangkan hari tuanya sebagai seorang pensiunan priyayi yang sore-sore akan duduk di beranda depan rumahya menikmati senja yang turun.

Begitulah tongkat estafet pengelolaan rumah saya berpindah ke tangan Mr. Rigen, yang kemudian telah sempat pula membangun keluarg kecilnya yang dahsyat itu. Setahun dua kali Madam akan muncul ke rumah kami. Pada waktu sesudah lebaran dan waktu Sekaten. Tentulah dengan begitu anggaran pension lebaran dan Sekaten saya sediakan. Tidak perlu Madam mengisi D(aftar) I(sian) P(royek) karena kedatangan beliau pun sudah selalu dengan semangatnya : saya datang, saya melihat dan saya menang. Waktu lebaran kemarin Madam tidak datang. Menurut kabar dari Tepus Madam sakit. Juga kabarnya Madam mulai agak kesulitan bergaul dengan saudara-saudaranya. Kebudayaan Madam, yang selama ini sanggup memberinya status, sosok dan wibawa yang meyakinkan, rupanya menjadi tidak berlaku kembali di desanya. Memang agak susah juga membayangkan Madam dengan segala flair dan kecanggihannya itu mengatur pengelolaan saudara-saudaranya. Dan masakan apa pula yang dia kembangkan di Tepus itu? Apakah Madam akan dimintai memberikan demontrasi memasak spaghetti ala bolognaise pada pertemuan PKK kelurahan ?

Waktu saya baru-baru ini pulang dari Jakarta, Mr. Rigen melapor bahwa Madam datang menginap untuk beberapa hari. Mau nonton Sekaten.

“Bagaimana keadaannya sekarang ?”

“Kelihatannya sehat-sehat saja. Hanya rambutnya semakin memutih dan wajahnya itu, lhp Pak ?”

“Kenapa ?”

“Tampak agak murung ….. “

Saya membayangkan sore itu Madam duduk-duduk di depan rumahnya memandangi tegalan di depan rumahnya. Saya menyesal tidak ketemu Madam kali ini. Mungkin Sekaten tahun depan, Madam.

 Yogyakarta, 3 Nopember 1987

gambar dari : phesolo.wordpress.com

Iklan

4 komentar

  1. […] ke sini. Mrs. Nansiyem dan Beni boleh tinggal di desa sepuasnya. Sementara mereka pergi, datangkan Madam dari Tepus. Setuju semua […]

    Suka

  2. […] yang dua kali sama bune Beni, thole Beni, mengantar simbok sama Madam. Kalau cuma sekali mengunyah sirih di gapura mesjid, simbok sama Madam tidak puas itu, Pak. Menurut […]

    Suka

  3. ini blog apaan, nih?
    Baru-baru ini saya baca Seribu Kunang-kunang di Manhattan, keren abis! 😀

    Suka

    1. silakan baca di hal “tentang blog ini”
      ma kasih dah mampir … 😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: