Taksi AC Jakarta

Untuk memberi service yang lebih memuaskan dan mat bagi warga metropolitan Jakarta dan sudah tentu para anggota komuniti bisnis bule dan Jepang yang semangkin banyak saja hadir di Jakarta, jumlah taksi metropolitan yang dipasangi AC tahu-tahu bermunculan banyak sekali. Juga sudah tentu para wisatawan di harap akan lebih senang naik taksi yang ber-AC itu. Dingin mak-nyes di tengah hawa gurun sahara kota Jakarta.

Saya termasuk yang menyambut dengan gembira kehadiran taksi AC itu. Betul pada jeglekan pertama angka meteran argo itu belum-belum sudah Rp. 600,- tetapi ‘kan untuk tubuh yang kelas gembrot seperti ini ‘kan menolong banyak sekali. Keringat tidak lagi bercucuran, kotos-kotos, kemana-mana. Hem tidak lagi basah lengket di tubuh hingga singlet di dalam tampak membayang. Belum lagi rambut yang ambyar awut-awutan kena angin kencang karena jendela dibuka untuk sekedar menangkap angin.

Betul begroteng taksi jadi membengkak sekali (dari rumah ke senayan saja sudah rata-rata Rp. 4000,-), tetapi comfortable and convenient-nya itu, lho! Dan penampilan juga terpelihara, pokoknya bonafide. Tubuh kering, rambut tidak awut-awutan. Setidaknya yang mau kita todong proyeknya agak netral dulu melihat penampilan kita. Coba kalau baju lengket di tubuh, muka berminyak, rambut awut-awutan, salah-salah bisa dikira mau jual kalender.

Akan tetapi, Jakarta bukan Jakarta kalau tidak segera terjadi akal-akalan yang kreatif dari para pemilik taksi reot dalam menghadapi persaingan taksi AC itu. Mau pasang AC mobil yang baru jelas akan terlalu mahal. Maka mereka pun memasang air cooler yang entah bagaimana mengotak-atiknya, pokoknya, pokoke ada angin sriwing-sriwing yang sangat sporadis keluar. Yang duduk di depan, di samping sopir, kalau tidak tahan bantingan salah-salah bisa masuk angin. Yang duduk di jok belakang salah-salah bisa kagak kebagian angin karena angin yang sriwing-sriwing keluar itu tidak nyampe ke belakang karena terhalang oleh tubuh sopir. Atau oleh tubuh yang duduk di depan dan jok-jok depan itu juga. Wah, susah juga. Sang pemilik taksi dan sang sopir akan cuek saja. Pokoknya tancap saja jeglekan pertama Rp. 600,-. Lha wong sudah pakai angin, kok! Extra service, bukan? Mau nunggu taksi yang bonafide saja jumlahnya belum terlalu banyak untuk dapat mengambil oper semua lalu-lintas taksi Jakarta. Jadi, yah berdiri di pinggir jalan untung-untungan ….

Pukul sepuluh pagi. Hari sudah mulai angudubilah setan panasnya. Hari itu saya mesti pergi ngurus ini dan itu di tiga tempat. Celakanya tenpatnya saling berjauhan. Dari Jakarta Timur kudu ke Jakarta Selatan terus ke Jakarta Pusat, baru pulang ke Cipinang di Jakarta Timur lagi. Sebuah taksi ijo datang. Kaca depan bertulisan menyolok “full AC”. Wah, pasti AC-nya sip. Lha “l” nya sampai tiga begitu. Dengan gembira saya masuk. Pintu saya banting biar dikira bos dan saya pun duduk metengkreng di belakang. Mobil pun ditancep kencang sekali. Baru beberapa menit berjalan saya mulai mencium bau nyenggrak yang tajam sekali. Wah, edan, bau minyak gosok yang kelas wong cilik betul. Dari belakang kelihatan jelas sekarang leher pak sopir yang dekil-dekumel itu berlerek-lerek merah karena kerokan. Untuk menghilangkan bau yang justru bikin kepala pusing itu, jendela saya buka.

“Lho, ampun dibuka, Pak. Kulo niki mangsuk angin. Hoakk-heekk ….

Waduhh, lha ini. Baru masuk taksi pertama sudah ketemu bangsa dhewek. Bersendawa bin glegekan lagi.

“Lho, sampeyan dari Jawa to, Mas. Kok sampeyan tahu saya juga dari sono?”

Yakk, gampang ngenali priyayi Jawa niku. Ning saya mohon pangerten Bapak enggih? Jendelanya ditutup saja terus. Tur ini AC kok, Pak. Kudu ditutup terus biar adem buat panjenengan …

Wah, ciloko. Gara-gara kudu pangerten dengan bangsa dhewek, saya tidak dapat menghalau bau minyak angin cilaka itu. Waktu sampai tujuan saya tidak tahu lagi saya yang masuk angin atau mas sopir yang sembuh dari sakitnya.

Matur nuwun untuk pangerten-nya, lho Pak. Hoakk-heekk ….

Dengan kepala terasa pusing dan perut eneg, saya habiskan hari itu mengurus pekerjaan saya. Dan saya pun tidak peduli lagi waktu taksi AC yang berikut adalah taksi biru dengan sopir Batak. Gas ditancep. Sruuunggg …..!!!

“Minta perhatian, bah, jendela dibuka dulu, ya. Saya masih merokok nih. Sayang kalau dibuang …”

Ciloko maneh. Sekarang dibuka, mobil terasa panas dan asap terus mengepul. Argometer berklik-klik dengan tarif AC. Yahh, demi pangerten-lah. Tancep terus, bah ….. !

 Yogyakarta, 13 oktober 1987

*) gambar dari : franco.web.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: