Pariwisata Dimana-Mana

MAKAN malam di rumah yang sepi tanpa di-reriung seorang anggota keluarga jelas merupakan makan malam yang hambar. Maka menu penderita bludreg, yang mengurangi garam, yang sudah secara rutin hadir di meja makan saya makin terasa hambar lagi. Sayur-sayuran tidak kelihatan hijau, sambal kehilangan seri dan tempe-tahu pun kelihatan pucat. Makan begitu baru terasa sedikit lebih nikmat bila ada teman-teman mampir dan mau mengawani makan. Itu pun untung-untungan. Sebab tidak semua orang akan doyan dengan makanan yang bertitik berat sayuran. Misalnya, kawan saya penyair dari lereng Gunung Merapi itu. Meskipun anak desa, dia itu anti sayuran. Katanya, sayuran hanya diperuntukkan bagi kambing dan kerbau saja. Manusia, katanya lagi, hanya pantas makan telur, daging dan, ahh … tongseng kambing. Waktu dia mula-mula mengutarakan bahwa sayuran untuk kambing dan kerbau, saya sudah siap menyimpulkan bagaimana peka lingkungan sahabat saya itu. Lha wong, anak petani merangkap penyair, lho! Tentu saja  gevoeling terhadap tetumbuhan dan hewan. Tetumbuhan disediakan buat ternak agar ternak dapat terus berguna buat manusia. Tetapi, pada waktu dia bilang, ahh … tongseng, saya tidak berani mengambil kesimpulan apa-apa lagi. Mosok saya harus mengambil kesimpulan bahwa kambing disediakan bagi manusia agar manusia jadi berguna seperti kambing-kambing ….

Berita nasional pukul tujuh malam di teve baru saja selesai. Itu berarti Mr. Rigen akan segera mengatur meja makan untuk menyiapkan makan malam saya. Wah, satu malam yang hambar terhampar di depan saya. Mengharap kedatangan sahabat saya penyair itu juga akan sia-sia. Akhir-akhir ini hobinya berkembang menjadi pemburu batu akik di kuburan-kuburan yang angker. Yah, sudahlah apa boleh buat. Dari balik koran Kedaulatan Rakyat dan Kompas, yang hingga sore hari itu sudah saya bolak-balik tujuh belas kali, saya mendengar suara Beni Prakosa menyilakan makan.

“Pak Ageng, dahaal …

Iyo, Le.

Dan saya tetap membolak-balik koran.

Dahalipun sampun, Pak Ageng.”

Saya pun dengan ogah-ogahan melipat koran-koran saya dan mulai berjalan ke kursi makan. Waktu saya mulai duduk menghadapi makanan itu, saya mulai melihat perubahan drastis pada blocking tata piring lelawuhan itu. Jumlah sih, tetap tiga piring saja. Tiga sehat tetapi belum sempurna. Cuma warna sayur-sayuran itu kok jadi hijau kemerah-merahan. Juga tempe dan empal itu jadi tampak coklat kemerahan. Saya baru sadar kemudian bahwa lilin, yang biasa dinyalakan di meja untuk menggusah laler, kali ini berwarna merah. Jadi, ada semacam light effect yang dramatis. Tempe kok jadi dramatis, lho. Dan piring-piring lelaukan itu juga tidak lagi berderet linier satu baris. Tetapi ditata dalam bentuk segitiga. Jadi triangle tempe, sayur bayem dan empal. Tetapi shock berat itu datang pada waktu saya menatap Mr. Rigen dan anaknya yang tumben pada malam itu berdiri rapi berjajar dengan tangan ngapurancang. Astaga, pakai baju apa mereka itu ? Mr. Rigen memakai daster Bali merah yang kemilau, hem putih lengan panjang, sarung plekat yang dilipat dan celana panjang putih. Beni Prakosa memakai blangkon yang dibeli di Sekaten tangannya memegang ukulele mainan yang siap untuk dikencrung kapan saja.

“Apa-apaan nih, Mr. Rigen ?”

Dener, Pak. Pliis.”

“Huss, dapurmu. Kowe iki baru kumat apa ?”

Pliis, empal en tempe en bayem, Pak. Pliis.”

Dak tabok lho, kowe. Ini badutan apa to, Gen ?”

Mr. Rigen meringis tertawa. Anaknya, Beni, mengencrung ukulele-nya. Menyanyi keras-keras, “jenang gula, kowe aja lali, malang aku iki iyo to, maass ….

“Begini, lho Pak. Saya lihat Bapak kok makannya makin sedikit kurang selera. Terus saya, bune Beni dan Beni akal-akalan pariwisata begini. Siapa tahu Bapak jadi lebih lahap dhahar. Meski begroteng tetap kurang. Hihiikk … “

“Pariwisata ? Begini ini pariwisata, to Gen ?”

Ha, enggih. Saya cuma tiru-tiru dalem-nya Pak Propesor Lemahamba saja kok, Pak.”

“Memangnya di sana ada pariwisata apa ?”

Elho, Bapak belum tahu, to ? Rumah beliau yang di jalan Kaliurang itu disulap jadi losmen apik sanget, lho Pak.”

“Losmen ? Omah Profesor itu jadi losmen ? Tur Pak Lemahamba itu sudah sugiih banget, lho. Rumahnya yang di daerah Pogung sudah dikkontrakkan bule-bule dalam dolar itu.”

Lha, ya biar semangkin sugih, to Pak.”

Malam itu makanan yang di meja masih terasa hambar. Meskipun  ada lilin merah. Meskipun lelawuhan itu disusun dalam triangle tempe-empal-bayem.

“Coba kamu ceritakan pariwisata di rumah Profesor itu bagaimana ?”

“Ya, konco-konco saya yang kerja di sana pakaiannya ya seperti yang saya pake sekarang ini. Cuma mereka lebih canggih.”

“Canggihnya bagaimana ?”

“Ya, bahannya lebih mewah. Sarungnya ya tidak kumel seperti sarung saya ini. Tur mereka dikursus bahasa Inggris oleh Pak Propesor sendiri. Wah, konco-konco saya itu sekarang cara Inggrisnya cas-cis-cus, lho Pak.”

“Coba cas-cis-cusnya kayak apa, Gen ?”

“Wah, lha kalau ke sini itu salamnya ‘halo’. Kalau pamit ‘bai-bai’. Kalau terima kasih ‘sengs’. Kalau menyilakan ‘pliss’. Pokoknya macem-macem. Etung-etung; wan, tu, sri, saya juga sudah mereka ajari.”

Pada suatu sore di took buku saya ketemu Prof. Lemahamba. Saya cuma kuat beli satu buku. Harga buku kok semangkin mahal saja, lho. Tetapi Prof. Lemahamba saya lihat membawa setumpuk buku. Dengan setumpuk buku itu wajahnya kelihatan lebih berwibawa dan ilmiah lagi.

“Wah, mborong buku nih, Prof ?”

“Yaahh, rutin. You know, untuk catch up informasi bidang saya yang pesat sekali kemajuannya. How are you ? Everything all right ?

“Yah, oke-oke saja, Prof. Sakwangsulipun ? Rak ya oke-oke saja, to ?”

“Oh, I’m not complaining. Everything under control.”

“Wah, sukur to. Lha, saya dengar Prof. sekarang buka losmen pariwisata ?”

“Aahh, jangan losmen, dong. Hotel kecil tapi modern. Nantinya mau saya jadikan pariwisata yang bener. Hotel-hotel di Yogya masih kurang canggih service-nya. Saya harap hotel saya nanti jadi model service yang betul-betul service.”

“Wah, Anda makin sibuk saja, dong. Masih harus blebar-bleber ke luar negeri. Masih kasih kuliah. Masih nguji. Sekarang masih harus ngurus losmen, eh … hotel.”

“Ya, saya selalu bilang sama Anda. Jangan stick sama satu profesi. Mesti allround. Semua potensi kita mesti kita manfaatkan. Anda mesti jadi economy animal … “

“Wah, economy animal ? Animal apa lagi itu ?”

“Pokoknya sekarang semua mau jadi pariwisata, ya kita ikut bantu pariwisata. Ini termasuk yang dinamai Tri Dharma perguruan tinggi, lho ! Pengabdian masyarakat …”

Wah, ya deh. Ayo, Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan Beni, my Pracimantoro animals. Ayo cancut tali wanda. Itu kamar di depan masih bisa nampung dua orang bule ….

 Yogyakarta, 6 Oktober 1987

*) gambar dari : coretanblogkita.blogspot.com

Iklan

One comment

  1. […] “Apa-apan ini !” seru Prof. Lemahamba yang lemahnya amba dan losmennya sukses. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: