Di Radio, Aku Dengar …

KEMARAU panjang yang aneh seperti sekarang ini memang bisa mejengkelkan betul. Bagaimana tidak. Resminya panas, akan tetapi ya tidak sepenuhnya begitu. Di sela kepanasan itu menyelip tusukan dingin yang aneh, yang membuat misum kemarau ini jadi musim panas-dingin. Bagi para priyayi (termasuk saya) yang menganggap siang, sesudah kerja rutin yang tidak terlalu keras (tetapi mulia karena untuk Negara) dan makan siang dengan nasi menggunung di piring, sebagai bagian yang terindah dari hari karena saat itu adalah saat leyeh-leyeh yang diteruskan dengan berlayar ke pulau kapuk. Musim panas-dingin adalah musim pengacau. Musim itu mengacaukan jadwal rutin kenikmatan. Musim itu merusak ritme. Musim itu tidak menghargai peradaban. Lha, bagaimana, sudah sebulan dua bulan ini saya susah tidur siang. Dari semua previlese, hak-hak istimewa yang satu demi satu telah disebut baik oleh yang berwajib maupun yang tidak, previlese boleh tidur siang inilah yang tinggal dan yang saya elus-elus dengan mesra. We lha, kok ya ikut dicabut juga lho !

“Di ladioo aku kenal lagu kesayanganmu … “

Saya yang lagi kegerahan di kamar jadi tersentak mendengar suara Beni Prakosa menyanyi, setidaknya semacam usaha untuk bernyanyi.

“Eh, Mr. Rigen, sejak kapan anakmu kau masukkan jadi kader Gombloh, he ?”

Mr. Rigen yang lagi menyetrika dan Ms. Nansiyem yang lagi ndhidhis rambutnya sendiri tersentak, kemudian terbengong-bengong.

“Maksud Bapak ?”

“Lho, piye. Itu lho, anakmu kok begitu cemerlang sudah bisa menyaingi Gombloh nyanyi ‘Di Radioo …’ Dari mana dia belajar ? Kalian yang ngajari, apa ?”

“Ooo, itu to, Pak. Ya dia belajar sendiri, Pak. Niru-niru yang di radio itu lho, Pak. Dari Reco Buntung, Njeronimo dan lain-lainnya itu.”

“Dari RRI juga, ya ?”

We, ya mboten. RRI kok nyetel Gombloh. RRI itu yang bagus cuma ketoprak.”

Yakk, mosok to, Gen. Lainnya mosok tidak ada yang bagus ?”

“Ya, wayang kulit yang sebulan sekali itu. Ning itu saja kalo dalange Hadisugito saking Toyan itu lho, Pak.”

“Lho, kowe cah Pracimantoro kok jadi seneng sama dalang Yukjo, to ?!”

“Bapak jangan propokasi, lho. Yukjo, Solo, itu sama bagusnya. Wong sama-sama kerajaan.”

“Ee … sukur kalau kau begitu. Waktu Suro kita ke Solo itu kayaknya bolehmu ngecopros muji-muji Solo nggak entek-entek.”

Mr. Rigen meringis sambil melipat hem yang baru disetrika.

“Apa lagi, Gen, acara RRI yang menarik kamu dan bojomu. Mosok Cuma yang itu tadi. Lha, kalau uyon-uyon dari dalem Ngabean dan yang adiluhung dari kraton itu ?”

“Wah, kalo boleh matur, Pak. Gamelan Yukjo itu terlalu keras bolehnya mukul. Cengklang, cengklang, serune ora jamak.

Huss, umuk Solomu itu, lho. Wong namanya gaya, kok. Kamu harus menikmatinya. Juga tidak semuanya cengklang, cengklang. Lihat-lihat lagunya, dong. Terus lainnya lagi mosok tidak menarik. Berita yang macam-macam itu ? Siaran pedesaan ?”

“Wah, trimo mboten, Pak. Dengar berita kepala ngelu, pusing. Dengar siaran pedesaan … he,he,he, lha wong saya ini kan dari desa to, Pak. Kok harus dengar cerita tentang desa. Pokoknya, nggih, Pak. Radio itu penting, nanging buat hiburan saja. Mangkin sedikit ngomongnya mangkin bagus.”

Dari kamarnya, tiba-tiba saya dengar Beni berteriak menirukan Gepeng menjajakan balsem. Cespleng … !

“Nah itu, Gen, anakmu juga sudah ikut-ikutan dodol balsem. Kalian kebanyakan nyetel radio komersil, sih.”

Lha, adpertensi di radio komersil itu lucu-lucu, Pak. Lagu-lagunya bagus, omongannya juga. Lumayan buat momong anak.”

Wah saya jadi ingat komentar Leonard Bernstein, dulu waktu dia masih memimpin Philharmonic Orchestra di New York. Dia mengeluh, kok yang sekarang paling kreatif dan dengan beitu menarik para pendengar remaja justru jingle komersial yang menjajakan produk industri.

Di Jakarta, musim panas-dingin terasa lebih dramatis lagi. Lebih menyengat, tusukan dinginnya lebih basah dan lebih berdebu. Rasanya semangkin malas dan wegah keluar rumah. Tetapi repot juga. Di rumah panas dan sumuk-nya bukan main, keluar panas-dingin berdebu. Mau naik bus harus lari, harus berdiri, harus bersedia dicopet. Mau naik taksi mahalnya bukan main, kotor tur penguk lagi !

Di rumah, si Gendut, kencana wingka, sisa remaja keluarga kami, saya lihat sedang nglaras di kamarnya. Pukulan telak Sipenmaru*) rupanya sudah dapat diatasinya. Di mejanya saya lihat ada segelas es jeruk dan beberapa potong siomay tergelatak di piring. Kemudian berserakan bahan-bahan penataran P4, majalah-majalah, di tangannya yang sedang dibacanya majalah Gadis. Kemudian radio yang disetel kencang-kencang. Si Gendut, sama dengan remaja lainnya, adalah juga generasi kuping congekan …..

“Vina ya, nDut …?”

“He … he … he … Bokap ! Tiap penyanyi Vina. ‘Ntar suara Harvey Malaiholo dibilangin Vina. Payah deh, Bokap.”

Lha, siapa dong ?”

“Ini, Pak. Namanya Siila, tulisannya es-ha-e-i-el-a, Siila Majid. Cakep ‘kan, suaranya ?”

“Ahh, Vina atau Sssyiila sama saja. Suaranya sama, lagunya sama. Apa sih, bedanya ?”

“Idiihh … Bokap ! Jelas lain dibilang sama. Dengar ‘tuh. Ngucap Jakarta saja sudah lain. Kalo Siila, Jeakareta. Mana Vina bilang Jakarta begitu. Dan kalo ngucap Anyer, Siila bilang Anye. Lain ‘kan, Be, sama Vina.”

“Kalo nanti ada lagu ‘Dari ngGodean ke mBantul’ bagaimana Sssyiila-mu itu akan bilang?”

“Bokap mesti gitu, deh, norak !”

Si Gendut tertawa anyel, aku tertawa cekakakan. Menggoda anak, tonik yang sedap juga.

Mbok coba sekali-sekali kau setel RRI. Musiknya enak, halus, sopan, tidak jerit-jerit gedobrakan.”

Si Gendut tersenyum, tetapi senyumnya kok mengandung misteri. Tangannya memutar-mutar kenop, mencari RRI.

“Nih, RRI nih.”

Dari radio itu keluar suara keroncong. Lagunya “Jembatan Merah”, kencrungkencrungkencrung … Suaranya di siang yang hareudang begitu memang kedengarannya lelah betul.

“Tuh, Be, musik RRI Babe. Tak kencrungtak kencrungtak kencrung … “

“Ehh, begitu-begitu musik asli kita, lho.”

“Asli. ‘Burung Camar’ juga asli. Semuanya juga asli, Be.”

Wah, si Gendut mulai ngotot.

“Pokoknya, Be, kalo RRI lagunya gitu terus nggak bakalan saya setel, deh.”

“Lho, ‘kan RRI punya FM juga. Lagunya bagus-bagus.”

“Bagus-bagus buat generasi Bokap sama Ibuk. Buat kita enggak, dong.”

Lha, berita-berita bagaimana, nDut ? RRI ‘kan ?”

“Aahh, bosen. Beritanya begitu melulu. Mendingan nyetel tivi jam sembilan. Seru. Banyak gambarnya yang menarik. Ini, ngomooooong doang. Pokoknya, Be, RRI sedikit aja ngomongnya kayak Warkop waktu masih ngintelek dulu. Yang penting yang canggih itu, Be.”

Wah, ini generasi canggih. Semua maunya canggih.

“Canggih itu yang bagaimana, sih ?”

“Yaaa, Babe. Canggih ya canggih. Begitu saja kok ditanyakan.”

Satu brakotan siomay, dua tiga gelegak es jeruk. Tangannya putar-putar kenop meninggalkan RRI-ku yang malang. Saya lihat mukanya yang bunder jerawatan, rambutnya yang sedikit pangrok, telinganya yang sebelah ditindik dua, yang sebelah satu. Antingnya yang sebelah bintang kecil merah dan biru, yang sebelah bunder biasa. Anak sekolahan yang begitu masa kini kok sama lho tuntutannya sama anak tamatan SD Pracimantoro. Radio jangan banyak ngomong, musik saja …..

“Nah, ini musik kita bersama, Be …”

Di radiooooo … aku dengar, lagu kesayanganmu …..

*) Sipenmaru : Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru

Yogyakarta, 15 September 1987

**) gambar dari : http://www.kompasiana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: