Air Dan Hidup Ngrekasa

Di Koran Senin pagi itu, saya membaca tentang kekeringan air di Pracimantoro. Segera saya panggil Mr. Rigen yang sedang menyapu halaman depan. Ini kabar gawat, pikir saya. Pastilah Mr. Rigen akan prihatin sekali membayangkan kesulitan orang tuanya. Maka untuk menambah bobot urgensi pada situasi, nada suara saya waktu memanggil Mr. Rigen juga seperti suara seorang jenderal memanggil ajudannya. Berat, berwibawa tur mantep.

“Mr. Rigen, rene !”

Mr. Rigen yang sejak lama sudah saya coba didik menjadi seorang teknokrat terampil tetapi tetap manusia, toh masih saja menyimpan sisa-sisa naluri robot di tubuhnya. Begitu mendengar suara panggilan jenderal itu, mak grobyak sapu dilempar di tanah, rerontokan dedaunan dibiarkan tetap berserakan dan sreett begitu saja sudah berdiri di depan saya.

Wonten dawuh, Pak ?”

Sikapnya berdiri tegak, tangan ngapurancang. Di belakangnya, Beni Prakosa, beo murni dari bapaknya, berdiri dengan sikap yang sama.

“Teh atau topi ? Teh atau topi, Pak Ageng ?” Robot beo kecil pun ikut-ikutan nyerocos pertanyaan rutinnya pada pagi hari.

“Teh, teh. Sana suruh ibumu bikin. Ini lho, Gen. Ada kabar gawat di desamu !”

“Oohh, itu to, Pak. Kabar kekeringan air to, Pak ? Tiwas saya itu deg-degan waktu ditimbali tadi. Dak kira mau didukani atau mau diparingi apa, gitu.”

Cilaka ! Mengapa naluri pembantu selalu begitu kalau dipanggil majikannya. Siap untuk dimarahi atau siap untuk diberi hadiah. Atau jangan-jangan itu naluri kita semua setiap kali kita dipanggil oleh atasan kita ? Begitu terbatas dan nyaris tanpa nuansa kah pilihan-pilihan di republik yang egaliter ini?

“Lho, kamu kok kelihatannya tidak kaget begitu, Gen ? Ini kan kabar krisis berat ? Air, je !

Lha iya, air. Terus mau diapakan to, Pak. Wong itu sudah begitu terus saben tahun. Kalau ada urusan gawat betul nanti, kan orang tua saya suruhan orang ke sini.”

Lha, orang tuamu itu apa ya tidak ngrekasa kurang air begitu ?” Mr. Rigen tertawa. “Orang desa itu kapan tidak ngrekasa to, Pak ? Selamanya kan ya ngrekasa. Karena biasa ngrekasa ya jadi tidak terasa ngrekasa, Pak.”

Wah, elok tenan. Pagi-pagi sudah dapat kuliah filsafat ngrekasa. Benar juga kata guru saya dulu bahwa filsuf-filsuf terbaik di dunia lahir di negeri-negeri yang gersang. Mungkinkah Pracimantoro akan menjadi gudang filsuf-filsuf ulung ? Setidaknya filsuf ngrekasa.

Dan Mr. Rigen pun berkisah tentang desanya yang gersang. Tentang gunung-gunungnya yang pada gundul. Tentang telaga-telaga yang sedikit airnya, yang pada musim kering begini akan kering sama sekali. Maka orang akan berebut mencari sumber-sumber air yang lebih jauh letaknya dan lebih sedikit airnya. Dan perebutan itu nantinya tidak akan antara manusia-manusia, akan tetapi juga dengan macan-macan yang mulai pada turun dari gua-gua di gunung.

“Macan ?”

Iya, Pak. Macan itu tidak hanya mau air. Tetapi juga mau jenazah-jenazah manusia. Kami di sana sudah nrimo kalau jenazah kami akhirnya dibongkar kiyaine itu untuk kemudian digondol, dibawa ke gua meraka.”

Fantastik. Saya mendengar itu seperti melihat layar teve imajiner di depan mataku menyiarkan lakon science fiction. Tetapi bukan ! Teve itu adalah teve Mr. Rigen from Pracimantoro. Dengan tenang dan dengan gaya dramatik teater tradisional dia menghabisi ceritanya.

“Tapi orang tua saya masih untung kok, Pak.”

“Untung bagaimana ? Orang Jawa kok untung terus, lho !”

Lha, mereka itu tidak seperti lainnya. Mereka hanya harus menempuh tiga kilometer untuk mencari air …”

Astaga. Hanya tiga kilometer ….

Sore-sore hawa yang seharian panas jadi teduh sedikit. Warna langit yang lembayung kemerahan itu ikut menambah sejuknya suasana. Dari jendela saya melihat Mr. Rigen & family sembur-semburan air dari selang yang habis dipakai untuk membasahi rumput halaman. Tawa meraka berderai-derai. Baju Beni Prakosa basah kuyup, tetapi dengarlah suara tertawanya yang renyah bahagia. Saya teringat orang tua Mr. Rigen di desanya. Sudahkah mereka mendapat air dari belik pada jam begini. Dan macan-macan itu ? Saat itu pun saya tidak mungkin lupa pesan Prof. Blommenstein, ahli air yang bernenek Jawa tempo hari, “Ojo ngguwak-ngguwak banyu, ora ilok … !

 Yogyakarta, 8 September 1987

*) gambar dari : satunegeri.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: