Di Republik Yang Egaliter Ini

Salah satu kenikmatan Minggu pagi, bagi saya, adalah membiarkan tubuh tetap menggeletak lama-lama di tempat tidur. Mata boleh disilakan membuka pada pukul enam atau tujuh, tetapi tubuh biarlah tergolek menurut maunya sendiri. Dalam keadaan begitu saya justru paling merasa nikmat bila tubuh itu membujur telentang. Muka menghadap langit-langit dan telinga mulai menangkap suara-suara di luar. Burung-burung, langkah-langkah kaki orang ber-jogging, teriak anak-anak dan suara para penjaja makanan yang mulai bergerak menjelajahi kompleks.

Jelas kenikmatan begitu bukan kenikmatan para petani yang tidak mengenal hari Minggu pagi dan tetap menjalankan rutin dan ritme kerjanya sejak setiap pagi subuh. Mungkin juga bukan kenikmatan buruh kecil kota, yang meskipun tidak berangkat kerja pada hari Minggu, tetapi naluri petaninya akan mencegahnya untuk bermalas-malas menggeletak di tempat tidur. Kenikmatan Minggu pagi saya itu mungkin kenikmatan kelas pekerja birokrasi yang masih memiliki sisa-sisa naluri priyayi. Naluri untuk mau mat-matan dan nglaras kapan saja dan di mana saja …

“Penggeng eyem … ! Penggeng eyem … !”

Wah, kok suara pertama yang merobek Minggu pagiku mesti suara Mas Joyoboyo, lho! Saya tetap menggeletak, telentang di tempat tidur. Saya ingin tahu suara-suara apa yang kemudian akan terdengar sesudah Mas Joyoboyo melempar provokasi dengan suaranya yang cempreng. Biasanya, si bedhes cilik Beni Prakosa yang akan sigap menanggapinya.

“Penggeng eyem, Pak Ageng ! Penggeng eyem, Pak …. !”

Nah, rak tenan, to ! Mr. Rigen yang sedang menyapu ruang tengah segera terdengar menertibkan anaknya.

Hus, huss. Jangan bengak-bengok. Pak Ageng biar dulu di kamar !”

Suara tenong yang berisi panggang ayam terdengar mak sreett di geser di lantai ruang depan.

“Wah, Bapake masih sare ya, Mas Rigen ?”

Haa, enggih. Wong hari Minggu ya buat ngaso to, Mas Joyo.”

Ngaso buat priyayi macam beliau. Buat priyayi macam kita ? Apa ya bisa dan diparengke, diijinkan oleh Sing Kuaos to, Mas Rigen.”

Yak, sampeyan kok ya lucu, lho, Mas Joyo. Mosok kita priyayi ? Kita ini buruh, Mas. Buruh cilik.”

“Iya, sudah tahu saya, Mas, kalau bukan priyayi. Cuma kadang-kadang boleh to, Mas, kita menganggap diri kita priyayi ?”

 “Ya, kalau cuma begitu tentu boleh-boleh saja. Bahkan membayangkan suatu ketika tidak cuma jadi priyayi, tapi priyagung, priyayi sing gedhii banget itu ya boleh-boleh juga.”

Kedua orang itu tertawa dengan renyah-nya. Dan Beni Prakosa pun ikut-ikutan tertawa tanpa mengerti betul apa yang ditertawakan bapaknya. Solidaritas anak kepada bapaknya agaknya memang sudah sejak dini sekali dipupuk oleh alam.

Karena gelagatnya percakapan itu masih akan seru dan menarik, saya memutuskan untuk tidak bangun dulu dari tempat tidur, melainkan cukup dengan menggeser lempeng saya miring ke kiri. Telinga saya pasang baik-baik.

“Eeh, siapa tahu, ya Mas Joyo. Siapa tahu bayangan kita itu satu waktu bisa kita capai. Jadi priyayi.”

“Wah, kalau perkara itu saya tempoh hari sudah matur Bapak sampeyan itu. Saya sudah semeleh. Pasrah dhapukane Gusti Allah. Kalau Sing Kuaos itu satu hari mau ndhapuk kita mandeg jadi priyayi,  ya manut, ndherek saja.”

“Ya, harapan saya itu pada thole Prakosa ini. Lahirnya saja tanggal 5 Oktober, hari ABRI. Dak gadang-gadang bisa jadi jendral. Lha, jendral itu ‘kan juga priyagung to, Mas Joyo ?”

Wee, lha enggih ! Lha, nek anak saya itu katanya kepingin jadi nginsinyur. Itu ‘kan juga priyagung to, Mas Rigen ?”

Wee, lha enggih ! Mung bedane itu sipil !”

Lha, kalau anak-anak kita itu jadi priyagung, mosok mereka tidak akan mikul dhuwur mendhem jero, nggih ?”

“Oh, ya harus, Mas. Paling tidak mereka harus membolehkan kita ikut mulyo. Apes-apesnya ya nunut naik Mercedes mereka to, nggih ?

Wee, naik Mercedes. Lha, terus tenong panggang ayam saya dak taruh di mana, lho ?”

Sampeyan itu bagaimana. Sudah jadi priyagung, sudah naik mercedes kok masih mikir jualan panggang ayam di tenong !

“Lho, mboten jualan, Mas Rigen. Waktu itu saya akan mborong panggang ayam sak tenong buat oleh-oleh anak cucu. Priyagung mosok tidak kuat mborong ayam panggang sak tenong, lho !”

Mereka pun tertawa renyah lagi. Beni Prakosa ikut-ikutan lagi.

“Tapi kayaknya, eh, mestinya priyayi dosen seperti Bapak sampeyan itu sudah enaknya begitu, lho. Mentang-mentang hari Minggu bisa tidur mbangkong. Jam setengah sanga kok masih enak tidur. Weh, lha kalau sudah tingkat priyagung apa ya tidak tiap hari mbangkong, lho ?”

Saya tertawa nggleges di tempat tidur. Rasanya seperti Prabu Angling Darma yang tgertawa sendirian mendengar obrolan dua ekor cicak di langit-langit kamarnya.

Tujuh belas Agustus 1987 belum lama lewat. Empat puluh dua tahun sudah kita bikin republik yang egaliter. Weh, lha, kok begitu lho, cara Mas Joyoboyo dan Mr. Rigen menyawang, mamandang kita ..

Di Jakarta, waktu saya pulang, istri saya rupanya masih tercekam dengan berita hot tentang Mangkunegaran.

Tempoh hari, beberapa minggu sebelum Bapak seda, kan beliau dapat kekancingan menjadi raden mas tumenggung …

Ya Allah, berilah tempat yang lapang bagi arwah ayah hamba. Dan bagi kami yang ditinggalkan di republik ini ….

 Yogyakarta, 25 Agustus 1987

*) gambar dari : kiosantiq.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: