Status

Mister rigen, yang bukan hanya berpangkat direktur jenderal dari kitchen cabinet saya, tetapi juga komandan satpam rumah dan sewaktu-waktu juga sopir pribadi, pada suatu hari mengeluh kepada saya.

“Wah, Pak, knalpot jip itu bocor lagi. Suaranya nggegirisi seperti mobil balap anak-anak muda.”

“Ya malah keren to, Gen.”

Ayakk, Bapak ki. Jip sudah butut begitu mbok diganti saja, Pak.”

“Huss, jipnya embahmu apa! Seenaknya aja diganti. Itu jip negara. Kalau ambrol baru boleh diganti, tahu! Tur negaranya baru prihatin, tidak punya duit.”

Lhaa, ya negara. Maksud saya, Bapak mundut ngredit mobil sendiri. Wong bapak-bapak lain sudah pada ngredit begitu, kok. Malah ada yang sudah jreng apa, lho.”

Yo ben, Gen. Wong saya ini tidak mampu ngredit. Apa lagi jreng. Tangeh lamun. Lha, yang mau dipakai ngredit dan jreng itu apa to, Gen … Gen. Wong kamu tahu gaji tuanmu ini berapa.”

Lhaa, ya gaji. Sepakan seminar-seminar. Bapak blebar-bleber ke mana-mana itu mosok tidak cukup to, Pak?”

“Ohh, kowe tak sepak pisan! Blebar-bleber. Kamu kira banyak to duit blebar-bleber itu? Ora, kamu kok tiba-tiba begitu getol mendesak saya ganti mobil baru itu kenapa?”

“Ya, tidak apa-apa, Pak. Begitu saja usul. Ee … kan ya saya ini ikut senang dan mongkok, to Pak, kalau Bapak punya mobil sendiri yang keren. Catnya mulus. Suara mesinnya tidak kemrosak seperti lampor. Pintunya halus kalau ditutup, mak beupp, tidak glodakan seperti pintu bui. Dan kalau ibu sama putri-putri rawuh dari Jakarta mau ameng-ameng kan ya lebih pantes, lebih grengseng kalau mobilnya baru, to Pak.”

Wis, .. wis, nyapu latar sana. Omonganmu mulai manas ati.

Mr. Rigen tersenyum klejingan pergi menyambar sapu terus ke halaman depan. Waktu suara sapunya kedengaran, krek-krek, saya tersenyum sendirian. Ngunandika. Lha, ya, wong namanya wulu cumbu. Kalau tidak memasukkan input pikiran yang cemerlang tetapi gendeng bukan wulu cumbu namanya.

Seminggu kemudian waktu saya sedang leyeh-leyeh di lincak bambu tutul, Mr. Rigen datang bersama koleganya anggota kitchen cabinet dari blok lain. Menurut Mr. Rigen, majikan kawannya itu sekarang sedang bingung mau melego mobil kreditannya, yang baru berumur satu bulan. Masih kinyis-kinyis, baru, kata Mr. Rigen.

Lha, Bapakmu kok mau melego mobilnya kenapa, to?

Lhaa, ya itu, Pak. Bapak saya itu sambat, mengeluh cicilan yang dicengklong dari gaji tiga bulan itu, kok terasa makin berat.”

“Lho, lha apa sebelumnya itu tidak diperhitungkan, to?

“Dulu, Bapak saya itu kan banyak proyeknya. Kecil-kecil tapi renes, ada saja proyek ini dan itu. Sekarang  nggak tahu, kok mak thel, Bapak tidak pernah blebar-bleber terbang ke Jakarta, Medan, Banjarmasin, Menado dan entah ke mana lagi.”

Saya tersenyum, merasa mendapat kawan sepenanggungan kena krisis proyek. Memang negoro sekarang baru sepi ing proyek rame ing utang ..

“Terus, kersane Bapakmu itu apa sekarang?”

Mr. Rigen yang dari tadi diam saja terus dengan sigap menyahut.

“Ya, Bapak ambil oper saja. Masih bagus lho, Pak. Corolla DX warna endog asin. Cukupan untuk keluarga kecil …”

Eeisshh, gundulmu kayak endog asin. Lha, terus Bapakmu itu mau melego ke mana? Saya kan tidak punya duit.”

“Ya kalau bisa kepada bapak-bapak di kompleks sini. Katanya teman sendiri, tur tidak menyolok mata. Kalau dijual keluar kompleks, wah … malu-maluin, kata Bapak saya.”

Wee, lha wong uang uangnya sendiri kok malu.”

“Rupanya Bapak dan Ibu saya itu sekarang sedang butuh betul, lho, Pak. Soalnya Ibu itu sudah terlanjur janji mau membelikan Den Rara orgen kalau ketrima di ngGajah Modo.”

Lha, apa sudah pasti Den Rara-mu itu ketrima di Gama?”

“Ya, belum Pak. Tapi bolehnya ngrengik, mendesak-desak Ibunya itu sudah sejak tahun Dal.

Dialog pagi itu saya tutup dengan permintaan penyesalan yang sangat kepada kolega di blok X karena tidak dapat menolong ngoper mobil apalagi mencarikan orgen

Waktu pulang rutin ke Jakarta, rumah di Cipinang itu terasa kosong dan sepi. Saya bangga melihat rumah itu. Dengan congkaknya saya berkata kepada keluargaku yang pada nglesot di depan televisi.

“Ini, lho, rumah intelektual sejati. Kosong, sepi, nggak ada apa-apa. High thinking plain living. Berpikir canggih, hidup prasaja.”

Istri dan anak-anak saya, termasuk menantu pada melongo melihat saya tiba-tiba berkoar begitu.

“Nggak sari-sarinya, Babe pidato, lho.” Si Gendut, si tukang meledek mulai menembak.

Huss, diam dulu kau. Ini penting punya semboyan seperti itu. Gandhi yang mulai dengan semboyan itu. Kan sekarang sedang prihatin.”

Rupanya sore itu bukan sore yang tepat buat pidato kesederhanaan. Si Gendut, kencana wingka saya yang wuragil, menuntut makan luar di hotel karena sudah berbulan-bulan tapa brata hidup di ujian tes ke ujian tes.

Dan tuntutan itu rupanya secara aklamasi sudah disiapkan dan disetujui oleh seluruh penghuni rumah. Hak veto saya pun tidak mungkin mempan dalam keadaan seperti itu. Maka tidak ada jalan lain daripada ikut mereka. Untung di kantong ada tambahan dua kali honor kolom ini. Kalau tidak …

Di hotel Aryaduta, coffee shop itu baru selesai dipugar. Interiornya jauh lebih indah dan mewah dari sebelumnya. Musik klasik ringan pelan mengalun. Bau uap kopi Nescafe, keju lasagna lewat membelai hidung dan wajah keluargaku yang selalu hidup sederhana, kelihatan gembira tetapi serius sekali melahap pesanan mereka. French soup, lembang salad dengan dressing thousand island, lasagna, pizza, roast beef open sandwich, beef steak medium rare …

Saya tersenyum ingat betul angka-angka yang tertera di daftar menu. Tidak mengherankan kalau suara yang terdengar waktu saya mengunyah roast beef-ku berbunyi, status, status, status, status ….

Yogyakarta, 21 Juli 1987

*) sumber gambar : finntrack.co.uk

//

Iklan

2 komentar

  1. Kira2 para dusen skrg apa ya masih prihatin kek gitu yak, secara yg guru2 SMP SMA aja dah mulai glamour gitu krn gajinya naek berlipat2. Andai Umar Bakri dan Umar Kayam tau…..hehehehe

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      jangankan dosen, guru SMA/SMP …. guru TK/SD aja dah banyak ceperannya kok
      ma kasih dah mampir, mas

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: