Semeleh

Bulan Syawal sudah agak lama lampau dan bulan Dulkangidah pun sudah dekat pertengahannya. Bekas luka-luka pesta reriungan keluarga bulan Syawal sudah mulai sembuh, mungkin sebentar lagi luka-luka baru (luka-luka rutin bulanan) akan segera hadir. Tidak apa. Pegawai negeri sudah selalu ditempa untuk menderita luka ini atau itu setiap bulannya. Luka rutin bulanan itu sudah diterimanya bagai bagian esensial dari hidupnya sehingga bila ada satu bulan berjalan mulus tanpa luka, mungkin akan membuatnya shock berat. Kemulusan memang bukan nyamikan-nya setiap sore waktu minum teh. Justru kejutan-kejutan kecil adalah menu santapannya setiap hari. Maka dengan penuh percaya diri saya melangkah masuk ke pertengahan bulan Dulkangidah.

Goodbye Syawal yang indah tetapi yang telah mendedel-duwelkan kantongku. Welcome Dulkangidah, datanglah luka baru apa pun itu bentukmu …. Hari Minggu. Perintah pertama untuk hari itu sudah saya jatuhkan.

“Beni, cegat lik Joyo penggeng eyem. Suruh masuk ke sini.”

Beni memandang saya. Matanya yang bulat indah itu menatap dengan ngungun, terheran-heran. Sepertinya dia mendengar suatu perintah tugas yang sangat absurd. Mungkin sudah lebih dari satu bulan tidak mendengar perintah semacam itu. Waktu akhirnya perintah itu tercerna di otaknya, mulutnya segera melepas senyum. Jempolnya segera diacungkannya.

Dud. Pak Ageng. Beli dud !”

Jenius kecil ! Celat begitu lidahnya sudah berbahasa Inggris, lho. Dan dia pun berlari ke pinggir jalan menunggu suara penggeng eyem.

Pak Joyoboyo penjaja door to door yang penuh energi meneriakkan penggeng eyem itu, datang mengelesot dengan mata berbinar.

“Wah, Den. Saya kira saya sudah dijotak, diboikot, tidak ditimbali lagi.”

“Lho, khan saya bilang bulam kemarin bulan tempe. Nyirik iwak.”

Ayakk, nyirik iwak. Kok ada saja, lho. Tidak mungkin priyayi seperti njenengan cuma mau dahar tempe terus. Pantesnya ya wong cilik seperti saya ini to, Den.”

Saya tercenung. Apakah ucapannya itu satu teknik salesmanship, cara menjaja yang lihai, untuk merayu gombal calon pembelinya. Ataukah itu pandangannya yang murni, yang melihat manusia dan makanannya dalam penyekatan kelas. Jadi, ada kelas priyayi dan wong cilik, ada kelas iwak dan kelas tempe. Huwiihh, awas lho, ini bangsanya Marxisme juga, lho ! Kelas iwak, kelas tempe ….

Sampeyan itu bagaimana, to, mas Joyo. Tempe itu makanan kita semua. Wong enak tur gizinya tinggi. Nggak ada urusan priyayi dan wong cilik. Semua sama, padha-padha …. “

Estu, to, Den ? Lha, kok nasib saya dari dulu kok beginiiii saja, to, Den ?

“Lho, jangan minder begitu, Mas.”

Minder niku apa ?”

Minder ya minder. Niku, lho, cilik ati. Kerjaan apa saja itu terhormat, Mas. Jualan panggang ayam, dosen ngGajah Modo, sama-sama, Mas.”

Ayakk, kok bisa lagi, to, Den. Gantian kerjaan apa, Den ? Njenengan yang jualan ayam, saya yang jadi dosen ngGajah Modo ?

Saya tertawa kecut, Mas Joyo tertawa keras. Kalau dia orang Perancis pasti akan bilang “touche”. Orang Jakarta bilang “kene lu !” Orang Yogya, awi, pripun sakniki …. Untuk kesekian kalinya saya kagum terhadap ketangkasan Mas Joyo. Tangkas dalam menyambar paha dan dada mentok. Tangkas dalam retorika.

“Saya ini sekarang sudah semeleh, kok, Den. Pasrah kersaning Gusti Allah. Dikasih peranan panggang ayam, ya saya terima. Didapuk ketoprakan lainnya, ya nderek. Lha, njenengan yang sudah priyayi ngGajah Modo mestinya sudah lama semeleh, nggih ?”

Dengan gesit paha dan dada mentok dibungkus cantik dalam lipatan daun pisang. Bau gurih manis bercampur harum merangsangku untuk cepat-cepat sarapan pagi. Beni Prakosa menyerobot dua tusuk sate usus. Teriak-teriak di belakang memberi komando bapak ibunya untuk menyiapkan makan paginya. Di meja makan, tanpa tunggu mandi dahulu saya siap melahap panggang ayam Mas Joyo. Dengan indahnya iwak-iwak itu semeleh di piring di depanku. Uap nasi hangat, harum panggang ayam. Suara cempreng Mas Joyo di kejauhan, “ … penggeng eyem, penggeng eyem … “ Oh, semeleh hatiku.

Yogyakarta, 14 Juli 1987

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: