Pada Suatu Senin Pagi Sesudah Lebaran

SENIN kedua sesudah hari-hari lebaran merupakan Senin yang memulaskan perut. Secara harfiah itu karena proses penggilingan sisa-sisa opor ayam, sambel goreng ati dan pete, ketupat dengan bubuk dele dan tentu saja segala macam kuwe spikuk dan semprit, masih terus berjalan. Tahap pertama proses penggilingan itu tentulah pada waktu kita terserap oleh siklus jaringan keluarga sendiri. Sedang tahap kedua dari proses itu pada waktu kita memeringiskan senyum pepsodent kita di kantor dan kampung. Kita bisa membayangkan proses kimiawi yang bagaimana yang sedang terjadi di usus dan perut kita dengan volume input sebesar itu.

Secara imaji dan metafor mulas itu tentu saja tidak di perut letaknya, akan tetapi di kepala. Justru karena diproses di kepala itu waktu konsep tersebut turun ke perut roso mules itu justru melebihi yang sejak semula diproses di perut. Manusia memang binatang yang aneh. Memiliki kelebihan yang hebat ketimbang rekan-rekannya binatang menyusui yang lain, seperti menciptakan imaji dan metafor itu. Tetapi begitu ia membiarkan imajinya berjalan, dia jadi bingung sendiri. Jadi mules, salah-salah kalau keterusan jadi sakit mah alias maag.

Begitulah pada hari Senin kedua itu. Rasanya pukul tujuh pagi masih terasa kepagian untuk ngulet apalagi bangun dengan sigap. Dan waktu akhirnya pelan-pelan sekali tangan itu terentang ke atas, mak kreteg begitu, tubuh juga tidak otomatis mau bangun sendiri. Mules di perut mulai terasa. Wah, masih mules yang kemarin-kemarin juga, nih. Dah pastilah aroma di belakang nanti masih akan sama dengan kemarin-kemarin tanpa nuansa. Habis, lebaran memang mendekritkan satu perintah tak tertulis untuk hanya menyajikan menu yang itu-itu saja. Bayangkan bila kita harus mengunjungi 17 rumah, 1 syawalan di kampung, 1 syawalan di kantor. Nuansa yang bagaimana yang bisa diharapkan dari guided menu seperti ini.

Pada waktu ritual proses penggilingan itu selesai dan rasa mules sementara teratasi, di kamar, waktu ganti baju muka bertatap dengan kelender. Wah, cialat lho, kok baru tanggal 8 Juni ! di depanku segera saja tampil satu jalan yang gersang dan panjaaang sekali. Sepi, lengang. Yah, masalahnya sederhana saja, mengapa panorama yang mengerikan bagai adegan salah satu film Ingmar Bergman itu muncul. Gaji untuk bulan Juni sudah saya ambil menjelang hari Lebaran kemarin. Waktu reriungan dengan jaringan keluarga siapa yang ingat bahwa bulan Juni belum mulai. Bahwa pengeluaran-pengeluaran untuk sebulan yang akan datang masih harus dibayar. Bahwa masih harus menanggung makan Mr. Rigen anak-beranak untuk tiga puluh hari. Bahwa masih harus mondar-mandir Yogya-Jakarta sedikitnya dua kali dengan Garuda. (Padahal sejak tahun anggaran ini tak ada lagi seminar, lokakarya dan sebagainya itu. Kecuali kalau seminar itu bisa konkret, langsung menelorkan usul-usul yang segera dapat dilaksanakan menaikkan ekspor non migas atau mungkin bagaimana bisa mencari jalan pintas untuk mengembalikan rupiah yang diparkir di luar negeri. Sminar kebudayaan ? Kesenian ? Wah, gersang … !)

Maka bahwa-bahwa yang  beruntun itulah yang membuat roso mules fase kedua datang “laksana malaikat menyerbu dari langit …”. Seketika tubuh itu jadi loyo, lemas. Bahwa-bahwa sialan ! Bisa betul you ruin my Monday morning ! Saya pun terduduk di kursi lupa kalau hari itu hari ngantor. Ruangan itu semakin terasa lengang sejak anak-anak dan ibu mereka harus balik ke Betawi. Juga  para keponakan dan orang tua mereka, yang sempat membuat horeg rumah, sudah pada “cabut”, sowang-sowang pulang ke kandang masing-masing. Kalau sendiri begitu kok jadi semakin dramatis membayangkan amplop gaji berwarna cokelat dari fakultas itu. Amplop itu dari sononya memang tidak pernah tebal. Sesudah digerogoti hari-hari Lebaran amplop itu semakin menipis. Pada hari Senin pagi itu, amplop keramat bulanan itu sudah menjadi konsep yang abstrak. Bahkan sudah menjadi satu metafor. Lambang bagi kerja sebulan sebagai anggota Korpri. Tetapi menyusur jalan panjang dan gersang dalam waktu sebulan yang akan datang, alangkah konkretnya itu !

Rigen datang menanyakan mau masak apa hari itu. “Sayur-sayuran wae ! Untuk sebulan ini terus ganti-ganti sayur asem, sayur bening, sayur asem, sayur bening, tempe, tempe, tempe. Pokoknya yang enteng-enteng saja.”

“Terus begitu, Pak, sebulan ? mBoten bosen ?”

Tentu saja saya terangkan bahwa itu semua dalam rangka menguras perut kita sesudah kena polusi opor ayam Lebaran. Untuk jaga gengsi tak mungkin, dong. Diceritakan aspek ekonomis-finansial-budgetair kepada Mr. Rigen, meskipun dia (seperti pernah saya laporkan dalam kolom ini) adalah ekonom.

“Apakah ini dalam rangka hidup sederhana, Pak ? Di koran itu ….”

“He-eh, he-eh bener kowe ! Ini menyesuaikan dengan cara hidup sederhana para bapak di Pusat.”

“Lha, saya dengar bapak-ibu di Betawi itu sekarang jarang sekali dahar daging.”

“He-eh, he-eh bener kowe …”

“Malah kabarnya bakul daging pada ngeluh mboten payu ….”

Ayakk, kalau ini ngarang kamu.”

“Lho, estu Pak. Kalau pada mboten kersa dahar daging kan sedikit orang beli.”

Tiba-tiba dari depan pagar rumah ….

“Penggeng eyem, penggeng ….” Dan Mas Joyoboyo …. cleret … sudah begitu saja nglesot di depan saya dan Mr. Rigen.

“Wah baru nyirik iwak, je, Mas.”

“Waduhh, iwak kok disirik, lho. Dan elok-nya sak kompleks sini kok pada mau begitu to, Den. Wonten gerakan apa, to, Den ?”

Tiba-tiba Beni Prakosa nyelonong merengek minta sate usus kegemarannya. Rigen yang tidak pernah tahan rengekan anaknya cepat merogoh koceknya mau membayar. (Tetapi kayaknya bolehnya merogoh kocek itu kok pelan sekali).

Saya pun tanggap ing sasmita, “Wis, wis, ini saja. Ambil sate usus lima !”

“Cuma ini, Den ?”

Saya cuma menganggukkan kepala. Berdiri. Siap-siap mau pergi ke fakultas karena hari ini memang sudah siang betul.

“Begini, lho, Mas Joyo. Bapak itu sekarang sedang mau sederhana seperti bapak-bapak di Pusat. Maunya cuma dahar sayur sama tempe saja.”

Wooo, lha saya kalau tidak makan iwak sak cuwil apa kuat dodolan begini.”

Di jalan saya tidak mendengar diskusi itu lagi. Wong cilik, mana tahu lu strategi pangan dan krisis moneterku. Di depan saya ajaib sekali jalan ke fakultas kok sekarang gundul dan panjaaang sekali.

Yogyakarta, 9 Juni 1987

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: