Sawang Sinawang Waktu Lebaran

MENURUT para pengamat budaya Jawa, konon orang Jawa itu sangat mementingkan keselerasan, harmoni dan sejauh mungkin menghindari konfrontasi dan konflik. Konfrontasi dan konflik akan membuat suasana tidak laras dan tidak apik. Dan seterusnya akan membuat jagat menjadi gonjang-ganjing, unsur-unsurnya pun akan mreteli, lepas satu demi satu, dan akhirnya akan berantakan jagat yang sebelumnya mengikat orang-orang Jawa itu selaras dan seimbang dalam keindahan.

Apakah itu berarti bahwa orang Jawa tidak pernah berani menatap muka orang ? Bayangkan, satu dunia yang terdiri dari orang-orang yang membuang muka atau menundukkan kepala (dengan malu-malu atau tidak) setiap bertemu muka dengan orang demi keselerasan dan keindahan. Baru membayangkan satu bagian kecil saja dari dunia orang Jawa, Malioboro misalnya, penuh dengan orang-orang yang begitu sudah sulit, apalagi membayangkan seluruh jagat Jawa seluruhnya. Kalau begitu, apakah orang-orang Jawa sudah menjadi tawanan kearifan pandangan hidupnya sendiri ? Menjadi suku yang minggrang-minggring, terus menerus dihantui suara hati yang dengan nada serak berkata : mengko dhisik, le … ; mengko gek …, jangan-jangan …. ! Takut atau segan bertatap muka, lebih baik minggir dan menundukkan kepala agar kemungkinan konfrontasi atau konflik dapat terus menerus diperkecil. Lantas bagaimana Mas Giman bisa mengatakan kalau Pariyem berwajah … huuhhh … menggemaskan atau Denmas Suryodicokroingjonggo dapat bilang kalau Rara Lara Ireng black sweet alias ireng manis, kalau mereka terus menerus saling menghindar menundukkan kepala ? Mestinya Mas Giman berani menatap (dengan kalamenjing atau jakun naik turun) muka Pariyem untuk sampai pada kesimpulan “huuhhh …” itu. Atau denmas yang namanya dapat melingkari beringin kurung di alun-alun itu pastilah pernah dengan mata membelalak mengamati gerak-gerik dan lenggak-lenggok den rara itu untuk menetap bahwa gadis yang tinggal di pojok beteng itu hitam manis.

Ternyata, untuk satu jebakan filsafat hidup selalu ada semacam safety device alias alat penyelamat untuk keluar dari kesulitan kearifan pandangan hidup yang dibikin sendiri. Konon, hanya bangsa yang besar yang akan dapat secara kreatif berkelit menciptakan alat penyelamat tersebut. Dan bangsa Jawa (setidaknya dalam jumlah) adalah bangsa yang besar. Ia, bangsa Jawa itu, telah menciptakan alat penyelamat tersebut. Sawang-sinawang, memandang-(dan)-dipandang. Hidup itu hanya sekadar sawang-sinawang kata para filsuf Jawa. Dan karena saya bukan filsuf (untuk mata kuliah yang angker itu saya hanya lulus pas-pasan), saya membuat tafsiran sendiri tentang sawang-sinawang itu. Begini. Orang Jawa sudah terlanjur menjebakkan diri dalam pegangan “keselarasan apa pun bayarannya” dan “emoh konfrontasi karena itu tidak edi peni”. Padahal alangkah banyaknya keindahan di dunia ini yang harus dilihat, ditatap dan dinikmati. Maka mesti ada akal, dong, untuk dapat keluar dari dilema tersebut. Dengan strategi “dijupuk iwake ojo nganti butek banyune”, diambil ikannya (tetapi) jangan sampai keruh airnya, digalilah dari akar budaya bangsa Jawa sendiri, pandangan hidup sawang- sinawang itu. Keselrasan harus tetap dijaga, konfrontasi harus tetap dihindari, tetapi nyawang, memandang dari satu jarak tertentu, ya boleh, to? Nyawang dan disawang (karena dalam jarak tertentu yang tidak terlalu dekat) berada dalam titik netral yang tidak mungkin mengundang konfrontasi dan merusak harmoni.

Nah, pada hari lebaran itu (meski dianjurkan jangan) sahabat saya yang jadi petinggi di daerah ini kok nekat membuat open house. Dan yang aneh, kok saya dan istri saya berani-beraninya datang ! Begitulah, pada siang hari itu kami tahu-tahu sudah berada di tengah pusaran manusia di rumah sang petinggi yang indah. Salam-menyalam, lempar-melempar senyum, rangkul-rangkulan dan tentu saja (karena modelnya begitu) sun pipi kiri dan kanan. Saling memaafkan pun bergumam di sela segala olag raga itu.

“Wah, hampir semua bapak-bapak pake hem ikat sutera Troso. Kau sendiri ketinggalan zaman, Pak.”

Istri saya melempar kalimatnya yang pertama sesudah nyawang sekilas ke sekelilingnya.

Yo, ben.”

Saya pun mulai ikut menyawang ke ibu-ibu yang pada hari itu kok pada kelihatan menor semua.

Lha, itu para ibu juga pada parade pake batik sutera Sapto, Ardianto, Iwan Tirta. Waduhh, selendangnya yang setelan klengsreh tanah. Kau sendiri yang ….. “

Yo, ben !”

Istri saya trengginas menukas hasil sawangan saya. Saya memotong, begitu tiba-tiba dia pelukan dengan grapyaknya dengan seorang ibu yang sebaya dengannya.

“Aduuhh, yang baru pulang dari Hong Kong dan Singapur. Mana hayoo, oleh-olehnya …”

Waallaahh, kok oleh-oleh. Waktu buat soping itu enggak ada !”

Aku terus diewer-ewer Kangmas suruh ikut drink sini, eat sana. Sudah to, pokoknya …

mBakyu itu umpama tidak overacting kerdipan dan pacak lehernya mirip Leni Marlina, lho”

Halahh, Leni Marlina apa! Hongkong, Singapur, tapi urunan arisan sudah dua bulan belum bayar. Wong sugih kok malah …”

dan seharian penuh kami pun menyawang dan menyawang segala kemilau yang beredar di sekitar kita. Di rumah, di tempat tidur, saya melihat langit-langit yang sudah kusam dua ekor cicak berkejaran. Saya tersenyum masih melihat open house di rumah petinggi.

“Kenapa senyum sendiri lihat cicak. Rumangsamu Prabu Angling Dharma, apa ?”

Saya tersenyum, nggleges.

“Eee, Bu. Betul juga, ya. Hidup itu mung sawang sinawang ….”

Saya menyawang Leni Marlina. Lha, istri saya menyawang siapa sekarang ?

Yogyakarta, 2 Juni 1987

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: