Never On Sunday

       BEBERAPA tahun terakhir ini kondisi kesehatan saya kurang begitu prima. Dokter menasihati agar saya lebih santai. Umpama mobil begitu, saya tidak bisa lagi digenjot di atas 100 kilometer sejam.

         “Jangan ngoyo, Pak. Nanti cepat tua, lho !”

         “Yak, dokter ini kok klise begitu. Mbok yang lebih orisinil, Dok, nasihatnya …”

         “Baik ! kalau you begini terus …. nggak tahu, deh !”

     “Yaa, masih ucapan klise, Dok. Tapi bolehlah, setidaknya lebih jelas. I get your message, Doc !”

         “Kalau puasa sekuatnya saja dulu. Pokoknya jangan ngoyo !”

        Kali ini saya tidak lagi ngeledek “tidak orisinil”. Karena nasihatnya sangat kreatif, lagi relevan dengan rencana bawah sadar saya. (Menurut Freud, bawah sadar memang punya rencana, kok !). Rencananya, ya itu ! Tahun ini bulan Pasa 1987, atau bulan Romadhon 1407 Hijriah, saya tidak akan mampu puasa penuh karena menurut roso tubuh saya akan nglemprek, loyo, kalau dipaksa puasa penuh. Lha, kok dokter memerintahkan pas seperti yang dimaui bawah sadar saya.

       Maka saya memutuskan untuk tidak akan puasa pada setiap hari Minggu. Tiba-tiba saya ingat nama yang bagus untuk program prei puasa pada tiap hari Minggu itu, Never on Sunday. Bagi mereka yang sebaya dengan penulis kolom ini mungkin masih ingat bahwa Never on Sunday adalah judul sebuah film yang pada permulaan tahun enam puluhan sempat terkenal. Film itu disutradarai oleh Jules Dassin dan dibintangi oleh Merina Mercouri, aktris Yunani yang konon sekarang menjadi menteri kebudayaan di negerinya. Yang penting bagi saya bulan filmnya karena saya sudah banyak lupa adegan-adegan ceritanya. Yang penting peristiwa pemutaran film itu dengan saya. Lho ?! Bukan nyombong ‘nih ye. Saya nonton film itu di New York dengan Bung Karno, Pak Ali Sastroamidjojo, salah seorang tokoh NU yang saya lupa namanya dan D.N. Aidit. Pada waktu itu Bung Karno datang dengan delegasi besar dan kami para mahasiswa dikerahkan untuk meladeni bapak-bapak itu. Pekerjaan con amore alias gratisan (waktu itu kita belum memasuki era honorarium …) tetapi yang sangat membanggakan hati. Bayangkan pada malam hari kita piket di Hotel Waldorf Astoria. Dan bila Bung Karno berkenan melihat film kita semua diajak. Wah, mongkok-nya hati ini, lho ! Rombongan Indonesia itu datang terlambat di gedung bioskop itu. Terpaksa penonton bule-bule Amerika itu menunggu kita. Dan waktu Bung Karno tampil di balkon memberi salam kepada semua penonton (hallo, … hallo … !) kayak gedung itu di Gedung Kesenian Pasar Baru jakarta dan penonton pada bertepuk tangan, wah, banggaku ! Presidenku jan hebat tenan … !

        Pada Sunday pertama saya mulai programku itu terasa nikmat betul. Bangun pukul 8 pagi, secangkir kopi susu, roti bakar dengan dilepot selei setroberi cap hero, koran KR Minggu, kaki metangkrang di meja. Uwahh, laras banget. Tiba-tiba … penggeng eyem, ….. penggeng eyem ….

         “Panggange, dipundhuti, Den ?”

       Hlaadalahh ! Mas Joyoboyo begitu saja sudah nglesot di lantai di bawah kursi malas saya. Dan rite de panggang ayam dibeber pun begitu saja dimulai. Karuan saja saya jadi kelabakan, malu ketahuan tidak puasa. Repot nih ! Apakah mungkin wong Klaten ini akan mengerti kalau saya terangkan makna program Never on Sunday, dan kenapa dipilih kode Never on Sunday.

         “Lho, mboten siyam to, Den ?”

         Belum sempat saya menemukan kata-kata penjelasan yang tepat …..

        “Saya juga tidak pasa kok, Den. Wong saya mesti menjaja ngalor-ngidul, ngetan bali ngulon, cari makan buat anak ini. Mosok Gusti Allah tidak paring ampun, nggih, Den ?”

    Saya Cuma bisa menggut-manggut tanpa teges, mulutku masih belepotan selei setroberi.

      “Apalagi menurut Den Bei Curiga Naraka, sing penting itu batine kalau pasa, Den. Kalau batine resik dan kuat, lha, … mbok minum es kopyor ditambah bistik komplit dikunyah nyas-nyis-nyus waktu pasa siang bolong begini ya tidak apa-apa, Den. Mak legenderr … masuk mulut tapi tidak terasa makan. Itu, Den, menurut Den Bei Curiga Naraka pasa kelas paling tinggi …”

      “Sudah … sudah … sudah … Ini uang panggang ayam. Sampeyan lekas pergi sana meguru sama Den Bei sampeyan !”

       Saya masuk kamar mencoba membaca. Edan tenan ! Minum es kopyor tidak terasa minum, makan bistik tidak terasa makan. Edan … ! Dari kamar terdengar jauh Mas Joyoboyo menjaja, penggeng eyem … penggeng eyem …. Suaranya cempreng.

     Senja mulai turun. Langit merah campur lembayung. Sirene mengaung terdengar berbareng dengan adzan maghrib menembus sungai dan pohon randu alas. Nglangut dan adem benar kedengarannya.

      Di kamar makan saya lihat dari jendela luar, Beni Prakosa, -anak Rigen, pembantu rumah saya- menyalami Rigen dan ibunya (Nansiyem Rigen). “Selamat buka, Pak. Selamat buka, Bu.”

         “Iya, Le. Terima kasih, ya. Kita sama-sama makan kolak ya, Le.”

         Di dalam, sehabis makan malam Rigen bertanya,

         “Besok hari Senin, Bapak puasa, to ?”

         “Ya … ya … yaaa ….. Allahumaghfirli, Tuhan ampunilah aku …..”

Yogyakarta, 19 Mei 1987

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: