Badai Pun Sudah Berlalu

       Kampanye pemilu datang dan pergi bagaikan badai di kota ini. Sekali akan datang berembus dahsyat membawa ekor lesus berwarna hijau, kemudian ekor puting beliung yang berwarna kuning, kemudian lagi prahara berwarna merah. Setiap ekor panjang berwarna dahsyat itu mengeluarkan suara gemuruh, gemelegar bagai guruh yang tidak mau berhenti.

     Dahulu, zaman saya masih anak-anak, gejala seperti itu akan ditanggapi sebagai berbagai macam tanda atau sasmita. Satu saat mungkin ekor lesus yang berwarna hijau, kuning atau merah itu akan ditanggapi sebagai segera datangnya bala berupa pageblug, musim penyakit menular, yang dahsyat. Pagi sakit, sore sudah meninggal. Pagi cuma mules, sore sudah mati kejang. Atau, karena badai itu diikuti oleh suara gemuruh, ditafsirkan akan datangnya lampor, yakni konvoi “kendaraan magic” dari kerajaan lelembut Nyai Roro Kidul yang mengawal dan mengiringi ratu lelembut yang konon berwajah cantik tiada tara. Menurut para tua-tua kampung pada waktu itu, Nyai berkenan datang ke salah satu kota magic, Solo atau Yogya, untuk show of force, bertamasya atau mungkin menghadiri konferensi meja bundar di keraton raja-raja Jawa (harap jangan ditanyakan apa agenda konferensi itu ….. ). Apa pun, badai beserta suara gemuruhnya yang berkepanjangan dan ekor panjang berombak yang berwarna itu tidak akan dibiarkan berlalu tanpa interpretasi canggih dari penduduk. Semua melihat gejala itu sebagai satu sistem tanda yang cepat atau lambat diperkirakan akan membawa konsekuensi perubahan yang gawat buat negeri ini. (Para ahli semiotik, makanya jangan kesusu kagum pada ahli teori Barat dengan cas-cis-cus bilang kalau di Amerika … di Australia ……. Sejak zaman dahulu orang Jawa sudah tahu apa itu semiotik. Semua sudah dilihat sebagai satu sistem tanda, lho !).

         Mas Joyoboyo, penjaja ayam panggang Klaten yang tiap hari Minggu setia menggedor pintu rumah dan langsung duduk nglesot di lantai dan dengan keterampilan seorang pro membeber paha-paha dan dada-dada yang coklat kehitaman di depanku, pada suatu Minggu pagi bercerita dengan penuh semangat dan emosi. Tentu saja tentang kampanye. Wong sedang musim kampanye.

         “Den, wah sudah to, kampanye itu jan elok tenan !”

         “Elok-nya ?”

        “Lho, wong kampanye kok ngangge gontok-gontokan, ancam-ancaman segala. Lha, dor … wonten sing mati !”

         “Lho, itu khan namanya resiko pesta demokrasi, Mas. Pesta ndangndut aja ada resiko mati, je …”

         Mas Joyoboyo terus aja dengan laporannya. Mungkin kata resiko (yang menurut saya kata kunci yang penting) tidak digubrisnya, mungkin ya tidak didengarnya karena “resiko” itu mungkin ya bukan kata apa-apa. Tangannya terus cak-cek menyambar dada, tepong dan menthok dibungkusnya – dengan cekatan – dalam daun pisang. Dan dengan tangannya mengacung-acungkan paha mulus kecoklatan, dia meneruskan cerocosannya.

        “Lha, pripun. Kampanye itu nggih, mestinya ya apik-apikan mawon. Wong Jowo itu ‘kan ya mestinya rukun saja. Kampanye kok jor-joran. Kampanye itu sing guyup gitu, lho. Baris-baris bareng, nyanyi bareng, njoget bareng, saling muji golongane dhewe-dhewe. Rak begitu? Wong yang pisuh-pisuhan kampanye itu, kalau habis pemilu ya bareng-bareng saya lagi cuma dodolan ayam panggang atau kuliah lagi sama-sama anak saya lho. Kok sekarang itu bolehnya gawat, lho. Pahanya Den, besar, empuk, ayu, coklat .. “

      “Sampeyan itu pripun, Mas. Ya, ini demokrasi tenan. Kalau kampanye boleh ndongeng program dan kehebatannya sendiri-sendiri. Bebas. Wong demokrasi, kok ! Lho, sing pinter dodolan kampanye nanti nek coblosan dapat suara terbanyak. Terus dia nanti yang akan ‘ngatur pemerintahan. Pesta demokrasi, kok Mas …”

        “Den, niki dadane dua, mentoke dua, pahane papat. Lha, roti santen tengkoweh loro. Semua delapan ribu dua ratus empat puluh sen. Maringi duit pas, ya Den !”

     Mau apa lagi kecuali membayarnya ? Uang pas recehan itu saya pinjam dari para pembantu di belakang. Suara rakyat terus terdengar lagi. Penggeng eyem, … penggeng eyem, … penggeng eyem …

        Rigen adalah pembantu rumah yang sudah ikut saya selama sepuluh tahun. Pada hari ultah angkatan bersenjata dua setengah tahun yang lalu, ia punya anak. Dinamakan Beni Prakosa. Cita-cita orang tuanya, minimal, … minimal, anaknya kelak mesti jadi pati ABRI. Dia melihat kelahiran pada hari keramat, begitu juga dalam rangka sisten tanda.

       Pada musim kampanye itu setiap sore dia anak-beranak akan siap berdiri di pinggir jalan nonton gelombang badai kampanye lewat gemumruh di depan hidungnya. Dasar anak calon jenius, si Ben yang baru berumur dua setengah tahun itu, sudah apal semua tanda gambar.

         “Gambar nomor satu apa, Le ?”

         “Srengenge !” Tangannya ngacung jempol.

         “Kalau gambar nomor duwa, Le ?”

         “Pohon jambuuu !” Tangannya ngacung jari dua.

         “Lha, kalau gambar nomor tiga, Le ?”

         “Kebo, kebo !” Tangannya ngacung jari tiga.

        Dasar calon jenius. Sampai sekarang, jauh sesudah badai kampanye itu berlalu dan kita menanti-nanti hasil ramalan Mas Joyoboyo, si Ben masih terus berkampanye. Mau makan; hidup … hidup srengenge ! Mau makan lagi; hidup … hidup wit jambu ! Mau makan lagi; hidup kebo … hidup keboo ! Dasar calon jenius. Seharian kuping kita kudu sabar dan senang mendengar excitement jenius kita itu.

       Hari Minggu pertama sesudah pemilu, Mas Joyoboyo sudah nglesot di depan pintu lagi. Sambil dengan terampilnya membeber dada dan paha dia laporkan dengan nada gembira.

         “To, pripun, Den ! Saya bilang apa !”

         “Lho, lha bilang apa ?”

      “Bar kampanye dan coblosan semua, ‘kan mulih ke kandange dhewe-dhewe! Sing bakul seperti saya ya rukun jadi bakul lagi. Sing cah mahasiswa ya kembali sekolah lagi. Sing babu, hihiikkk, ya jadi babu lagi. Apa ? Wong tiyang Jowo saja lho, Den !”

         Saya tersinggung entah kena apa.

         “Lho, wong Jowo, apa ? Wong Jowo kenapa …!”

         “Niku wau dadane dua, pahane dua, mentoke ….. “

      Saya tidak mendengar lagi apa yang diomongkan. Cepat-cepat saya rogoh dompet. Saya bayar jreng. Dan dia pun kabur sambil …. Penggeng eyem … penggeng …

         “Mister Rigen, kowe nyoblos apa, hah ?”

         “DPR wit jambu, tingkat satu srengenge, tingkat dua kebo.”

         “Lho … ?”

         “Lha, nyoblos apa saja ‘kan saya tetap jadi batur sampeyan, to, Pak ….. “

 Yogyakarta, 12 Mei 1987

Iklan

5 komentar

  1. Kelingan antri nek moco di KR biyen

    Suka

  2. Wah tulisan seperti ini yang ditunggu-tunggu ^^

    Suka

  3. Iwan Handoyo Putro · · Balas

    Kadang masih belum puas, baca lagi di sekolah. Kebetulan SMP saya langganan KR trus ditempel di papan kaca. Hmmm… waktu cepat berlalu ternyata…

    Suka

  4. Iwan Handoyo Putro · · Balas

    Saya ingat selalu menunggu hari Selasa pagi saat Pak loper koran mengantar KR ke rumah, membaca Kolom Umar Kayam menjadi “ritual” Selasa Pagi sejak saat itu.

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      hehehe .. ritual yg menyenangkan n menyehatkan … 😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: